Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH
Blog EntryFeb 12, '09 12:28 AM
for everyone

saya pindah...

ke almirashi.blogspot.com

i moved out to almirashi.blogspot.com

almirashi.blogspot.com ni hikkou shimashita!

:D

 


Blog EntryNov 18, '08 3:00 PM
for everyone
Jadi, kesimpulan yang aku sampaikan pada Nada adalah: karena apapun yang Allah takdirkan untukku pasti bermakna sesuatu--everything happens for a reason, Allah pasti menghendaki aku belajar sesuatu dulu di FK Unpad. Jadi, alangkah baiknya kalau ketika lulus nanti aku sudah bisa jadi seorang dokter yang Unpad banget.

Lha, Unpad banget itu yang seperti apa, ya?

Aku ingat beberapa minggu yang lalu ketika acara Dies Natalis FK Unpad, sempat ada speech dari dr.Eri, Dekan favoritku yang humble dan baik hati luar biasa. Beliau menyebutkan sesuatu tentang 'kultur pendidikan kedokteran kampus kita', dan sekarang mulai terkikis hilang, menurut pendapatnya, digantikan dengan materialisasi, industrialisasi pendidikan.
Apakah itu?
Yakni altruisme.

Ingatan ini mengendap saja dalam benakku sampai Ahad lalu dalam perbincangan dengan Adi dalam sela-sela Muswil 2 ISMKI. Aku sedang bercerita tentang kegiatan mentoring akademis di kampusku.
"Tujuannya untuk memenuhi daily academic need mahasiswa FK, terutama angkatan 2008.
Tiap 10 orang ada 2 mentor pembimbing yang berasal dari mahasiswa seniornya,
untuk seluruh kira-kira 300 mahasiswa per angkatan.
Ada pertemuan setiap pekan. Membahas kasus yang sedang dipelajari sepekan itu.
Lalu diadakan juga Pre-SOOCA untuk simulasi ujian lisan.."
Dia mengkonfirmasi setiap pernyataan yang aku sebutkan. Dan jawaban ya untuk setiap poinnya kemudian mengantarkan pertanyaan berikut terlontar:
"Apa yang bisa didapat oleh para mentor itu?"
Apa yang bisa didapat?
Aku berpikir. Apa, ya?
Yang terlintas di benakku kemudian adalah semangat Adit, komitmen Tiara, totalitas Maryam, kasih sayang Nada, keceriaan Pons dan Nestri, Bale 2, 3 dan 4 yang selalu penuh di Kamis sore hari, Kautsar yang siap sedia, Dhika yang tetap bertahan mendengarkan cerita adik mentornya sampai malam, Anggi yang kapanpun selalu bisa jadi tempat curhat kepercayaan adik-adiknya, Sofa yang tidak bisa mentoring agama kamis malam karena menyediakan waktu untuk mentoring akademis ...apa yang mereka dapat sebenarnya?
Apa, ya?
"Aku senang bisa bantu adik-adik!"
"Rasanya ilmu yang kita punya bermakna, senang.." ini kata Fitria.
"Bisa sekalian nge-review materi dulu juga."
"Adik aku lucu-lucu, lho."
"Adik kita baik-baik, ya."
Akhirnya aku berkata. "Ga ada, Di.
Secara materi ga ada yang ditawarkan. Jadi ini, altruisme."

Ini altruisme. Dan aku akhirnya hari ini setuju penuh dengan dr. Eri. Juga dr. Jan yang menyatakan sambil terisak di hari terakhir Student Camp OSPEK Pluripotent 2008, "..inilah yang FK banget, ketika adik sayang kakak, dan kakak sayang adik.."

Yap, yap, Nada mengangguk-angguk antusias.
"Tapi ada satu lagi, Teh Moi.
Sadar ga, kenapa kita selalu lebih kelu dalam menjelaskan tentang kampus kita dibanding ketika mengajukan pertanyaan tentang bagaimana hal-hal berjalan di kampus lain?
Nada rasa, itu karena benak kita selalu dipenuhi dengan belajar, pembelajaran. Selalu ingin tahu, ingin memperbaiki. Ingin bertanya, ingin menggali.."
Nada bilang.
"Itu satu hal lagi yang Nada rasa FK Unpad banget."

Aku setuju, Nad.

Blog EntryOct 22, '08 11:52 AM
for everyone
GOLPUT? MASA IKUT MEMILIH SAJA TIDAK MAU
Almira06100
“Lo mau milih siapa?”
“Rahasia!”
“Bakal golput?”
“Ya gak, lah.”

Saya tidak pernah membayangkan sama sekali untuk bersikap ‘golput’. Golput itu apa? Mari samakan persepsi sebelumnya.

Istilah golput muncul di era Orde Baru. Saat itu, hanya ada 3 partai politik—PPP, Golkar, PDI—dengan dominasi Golkar yang tidak terkalahkan selama beberapa puluh tahun lamanya. Ada pemilih PPP dan PDI, tapi saking tidak signifikannya, orang sudah mengetahui siapa yang akan memenangkan pemilu bahkan sejak dimulainya. Ya Golkar lah, siapa lagi.

‘Jadi kalau Golkar hampir sudah bisa dipastikan bakal menang—artinya hasil pemilu tertebak—buat apa gue ikut milih?’ Kira-kira seperti itu pikiran beberapa orang. ‘Mendingan gw golput! Golongan Putih!’

Jadi, golput adalah: tidak ikut memilih ketika pemilihan umum. Dan kira-kira apa saja alas an yang menyebabkan seseorang memilih untuk tidak memilih? Sepengamatan saya sih, banyak hal…

• Ga kenal calon
“Emang calonnya siapa aja?”
“Andri dan Dhika…”
“Ah, ga kenal dua-duanya gw. Bedanya mereka apa mana gw tahu. Golput aja lah.”
Lha, kenapa ga cari tahu kalau begitu? Dimana-mana kan ada pamphlet, flyer, dan poster kampanye…Lagian calon kan pasti kampanye di tiap angkatan. Jangan-jangan telat masuk lecture, ya?

• Merasa sulit mengambil keputusan.
“Andri dan Dhika? Dua-duanya seangkatan sih sama gw…Ga enak gitu kalau milih salah satu diantara keduanya. Dua-duanya teman gw…”
“Andri ok sih, tapi dia begini…Dhika juga bagus, tapi dia…Aduh! Bingung milih siapa…”
Jadi, milih siapa? Biasanya orang-orang yang pas pemilu susah menentukan keputusan, sulit pula melakukannya di situasi-situasi lain dalam hidupnya. Iya, ada karakter kronis untuk banyak ragu-ragu. Padahal, hidup itu memang persimpangan-persimpangan, and basically life is indeed a matter of decision. Bagaimanapun pada akhirnya kita tetap harus menentukan sikap. Kalau ga, kita akan jadi orang yang mudah terombang-ambing.

• Apatis
“Milih ga lo?”
“Ga, ah. Males!” Atau…
”Lo tau ga kalau mau ada Pemilihan Ketua Senat? Tau calonnya?”
“Ga tau. Terserah deh.”
Ini dia nih. Apatisme berkerak-kerak. Ga tau (dan mungkin ga mau tau) hal-hal yang terjadi di luar dunianya sendiri (lha kok jadi kayak autis, hehe). Ga peduli sama perkembangan di kampusnya. Pokoknya hidup gw ya untuk gw sendiri. Selama gw ok, peduli amat sama urusan luar. Atau…sebenarnya tahu kalau mau ada Pemilu, tahu calon, dst, tapi ada kemalasan bergerak yang—seperti saya istilahkan diatas—berkerak-kerak. Pokoknya males! Males ngantri, males ngambil kartu, males nyoblos, atau bahkan males mikir mesti milih siapa.

• Ga merasa suaranya penting
Ya kalau ini sih memang turunannya Orde Baru. Meskipun mungkin hasil Pemilu FK belum tertebak, tapi dia ga merasa suaranya penting. “Satu suara apa artinya sih? Ga bakal merubah drastis hasil Pemilu juga…”

Ya tapi kalau yang berpikir seperti itu lumayan banyak, apa yang bakal terjadi?
Bisa-bisa pemimpin mahasiswa selanjutnya bukan orang yang sebetulnya kapabel untuk memimpin.
Kalau kita tidak memilih, jangan-jangan ternyata orang-orang lain yang memilih hanya memilih calon berdasarkan tampangnya, gayanya, bagaimana dia berpenampilan, dan bukan karena kontennya, kemampuannya dan pemahamannya! Ini hal yang penting sekali lho, pemilihan ketua Senat ini.
Lebih dari sekedar segimana prestisiusnya, siapa Ketua Senat yang terpilih bakal sangat menentukan gimana Senat akan berkembang dan beraktivitas ke depannya.
Apa Senat akan bisa benar-benar menjadi organisasi yang solid?
Apa Senat akan bisa menjalankan tugasnya sebagai pelayan dan pemenuh kebutuhan mahasiswa?
Atau sedikit lebih jauh, 2010 globalisasi kesehatan dimana dokter-dokter asing bebas masuk dan berpraktik di Indonesia akan segera menjelang. Kalau kita, dokter Indonesia (atau dokter Malaysia di Malaysia) ga benar-benar berkompetensi tinggi, jangan harap akan bisa survive bersaing dengan mereka. Nah, siapa ketua Senat selanjutnya juga akan menentukan, segimana jauh Senat bisa melaksanakan program untuk mempersiapkan mahasiswa FK Unpad menuju era global practice itu.

Jangan sampai setahun ke depan kepengurusan Senat melempem lagi. So, ini bukan perkara main-main.

***
Tapi lebih dari itu ya. Ikut berpartisipasi menentukan Ketua Senat menunjukkan segimana kepedulianmu pada kampus ini. Kita sudah mendapat banyak sekali dari FK Unpad: lingkungan yang kondusif, sistem dan kurikulum belajar yang ok, dekanat yang memperlakukan kita seperti anak sendiri,…banyak hal.
Waktunya mempertanyakan: kita sendiri, apa yang sudah kita berikan untuk FK Unpad?

Masa ikut memilih saja tidak mau.



Blog EntryOct 22, '08 11:20 AM
for everyone

Global Practice: They’re Coming! So What To Do

 

Teman-teman tahu, hidup berjalan dengan sangat cepat.

Bisakah memicingkan mata barang sejenak?

Kenyataannya dalam jangka waktu yang ga begitu lama, sesuatu yang besar akan terjadi, dan akan sangat mengubah kehidupan kita.

***

Ini adalah sesuatu yang perlu kita semua tahu.

Bahwa era globalisasi kesehatan—atau kadang disebut era global practice—akan segera dimulai dalam hitungan waktu ga sampai 2 tahun. Yap, tahun 2010 tepatnya.

Dan, sebelumnya, sudah benar-benar tahukah kita apa yang dimaksud dengan era global practice ini?

GLOBAL PRACTICE: WHAT’S THIS.

Suatu era dimana dunia kita yang luas ini menjadi seolah-olah hanyalah one global village karena hampir ditiadakannya sekat-sekat antarnegara. Siapapun bisa memutuskan dimanapun dia ingin tinggal, bekerja, hidup. Bisa masuk dan keluar ke tempat manapun, bebas.

Ada 3 prinsip yang akan berlaku di negara manapun:

1.       Free Market Access

Setiap negara harus membuka pintu selebar-lebarnya untuk masuk dan berkembangnya modal dan tenaga/jasa asing.

2.       National Treatment

Tenaga kerja asing tersebut harus diperlakukan sama persis untuk bekerja di Indonesia sebagaimana rakyat Indonesia akan bekerja di Indonesia.

3.       Most Favorable Nation

Antar tenaga asing sendiri-pun tidak boleh dibeda-bedakan.

 

Ga terkecuali di bidang kesehatan yang kita geluti ini. Negara Indonesia kita sudah menandatangani kesepakatan bahwa bidang kesehatan termasuk dalam bidang yang akan diliberisasi. Artinya?

Dokter-dokter asing akan bebas masuk ke Indonesia dan berpraktik di sini, mereka—tanpa kecuali—akan berhak atas perlakuan yang sama dengan kita dari pemerintah Indonesia, dan artinya pula, kalau kita ga benar-benar memiliki kompetensi tinggi sebagai dokter, kita ga bakal bisa bersaing dan survive di antara serbuan tenaga-tenaga kesehatan yang memang mengincar negara kita.

 

Kenapa mereka harus mengincar Indonesia?

Mungkin pemaparan berikut akan sedikit mengejutkan kalian.

 

Gambaran dokter umum (dokter keluarga) Indonesia

·         Kebutuhan: 88.000;

·         Yang ada sekitar 50.000;

·         Defisit: 38.000;

·         Produksi: +/- 4000/tahun;

·         Perlu hampir 10 tahun lagiàmemenuhi 38.000 dokter umum...tidak termasuk yang ‘tidak lagi berpraktik’ sebagai dokter.

Gambaran dokter spesialis

·         Kebutuhan 5.000;

·         Yang ada sekitar 1.800;

·         Produksi: +/- 100-150/tahun;

·         Perlu waktu 35-50 tahunàmemenuhi 5000 dokter bedah...

 

Teman-teman yang saya ajak berdiskusi pada umumnya menyampaikan respon terkejut. “Wah! Selama ini saya kira Indonesia sudah berkelebihan dokter, makanya banyak yang menakut-nakuti kalau sekarang banyak dokter yang kehabisan pasien dan seperti menganggur...”

Iya Teman-teman, itu juga ga salah. Tapi itu terbatas hanya di Pulau Jawa tempat kita tinggal ini.

 

Simak data berikut:

·         Total dokter spesialis 16451

·         Total dokter kategori praktek umum 60413

·         Sebanyak 70.2% dokter spesialis berada di Pulau Jawa.

·         Sebanyak 64% dokter praktek umum di Pulau Jawa.

·         Di Sumatera terdapat 14.5% dokter spesialis dan 19.1% dokter praktik umum.

·         Sisanya tersebar di daerah lain.

 

Menangkap kesimpulan yang sama?

Secara umum jumlah dokter memang masih mengalami defisit. Kondisi ini diperburuk  dengan situasi distribusi dokter di Indonesia yang masih sangat parah. Ada daerah yang mengalami surplus dokter, sementara banyak juga daerah lain yang justru mengalami kelangkaan tenaga kesehatan dan keterbatasan akses ke layanan kesehatan.

Nah, inilah teman-teman yang menjadikan negara kita ini menjadi salah satu sasaran yang paling diincar untuk diekspansi oleh dokter-dokter asing mulai tahun 2010 nanti.

 

Apalagi permasalahan kesehatan di negara kita juga belum lagi tuntas...

·         Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia 307/100.000 kelahiran hidupà18300/tahunà50/harià2/jam, masih sangat tinggi...

·         Angka Kematian Neonatal di Indonesia 20/1000 Kelahiran Hidupà88.779/tahunà346/harià10/jam...

·         Indonesia menempati urutan ketiga dalam daftar negara dengan angka kasus TB terbanyak di dunia.

·         Dll.

 

Jadi sebetulnya, kedatangan dokter-dokter asing itu ga sepenuhnya merupakan ancaman yang harus diwaspadai. Sebab, bisa jadi untuk sementara, sambil kita berusaha memproduksi dokter-dokter berkualitas yang benar-benar asli putra negara kita sendiri, kita bisa memanfaatkan mereka untuk memenuhi kedaruratan kebutuhan kita akan ketersediaan tenaga kesehatan.

Tapi, saat mereka datang dan ternyata jumlahnya kemudian malah melampau kebutuhan, yakinkah bahwa kita tidak akan menjadi pihak yang tersingkir? Yakinkah akan bisa survive?

 

For Us To Survive;

 

WTO (World Trade Organization) sebagai pemrakarsa globalisasi ini, PB-IDI (Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia) sebagai rumah yang menyatukan kita nantinya serta KKI (Konsil Kedokteran Indonesia) yang bertugas membuat standarisasi dokter nasional juga sebenarnya bukannya berdiam diri menyikapi isu globalisasi kesehatan ini. Mereka tetap berupaya membuat regulasi untuk mengkondisikan kebebasan yang terjadi agar tetap menjadi kebebasan yang rapi dan bertanggung jawab.

 

WTO misalnya membuat instrumen skrining untuk menjaga kepentingan nasional anggotanya agar tidak terganggu:

1.       MRA (Mutual Recognize Arrangement)

Tiap negara membuat standar profesi mereka masing-masing—hanya tenaga kerja (termasuk kesehatan) yang memenuhi standar sajalah yang berhak untuk bekerja di negara bersangkutan...Lebih lanjut lagi, agar antara dua negara, misalnya, bisa terjadi global practice, maka kedua negara harus saling mengakui dan menerima standar profesi masing-masing negara.

Kesepakatan pembahasan MRA untuk dokter dan dokter gigi asing yang berpraktik di negara ASEAN:

·         Sudah terregistrasi di negara asal.

·         Mempunyai sertifikat dari PMRA (Professional Medical Regulatory Authority), di Indonesia berarti KKI,

·         Pengalaman praktik minimal 5 tahun berturut-turut.

·         Tunduk dan mengikuti ‘domestic regulation ‘ dari ‘host country’:

 

2.       ENT (Economic Needs Test)

Tetap dibuat kuota. Misalnya untuk kota Bandung. Jika sudah diukur dan ditentukan bahwa Bandung memerlukan 3000 dokter umum, maka jika memang kuota itu sudah terpenuhi, sebanyak apapun, sebaik apapun kualitas dokter yang ingin bekerja di sana, ia tetap takkan bisa melakukannya. Ia harus mencari daerah lain yang masih memerlukan dokter.

 

Masalahnya adalah?

·         Ga bisa dipungkiri, dan bahkan ini diungkapkan secara gamblang oleh Ketua KKI, Prof. Farid Anfasa Moeloek, dr., Sp.OG dan Dekan FK Universitas Pelita Harapan, dr.Eka, Sp.BS bahwa standar profesi di Indonesia sendiri memang masih sangat rendah. KKI adalah lembaga yang mempunyai tugas untuk mengesahkan standar pendidikan dokter dan lulusan dokter Indonesia. Maka mengapa KKI tidak sekalian membuat standar yang tinggi saja? Tidak membuat UKDI yang setingkat USMLE di Amerika?

“Kalau saya melakukan itu,” kata Prof.Moeloek, “Bisa-bisa institusi pendidikan kedokteran yang ada di Indonesia hanya tersisa empat!”

Jika demikian, maka bisa diperkirakan, dokter-dokter dari negara maju seantero dunia denga kualitas pendidikan kedokteran yang lebih baik akan dengan mudahnya mengekspansi negara kita, sementara kita (bisa jadi) tidak bisa memenuhi standar di negara mereka saking tingginya...

·         Tentang kuota. Meskipun ada sisi dimana kita bisa merasa tenang karena dengan sistem kuota maka perimbangan/rasio antara dokter-pasien lebih terjamin, tapi darimana kita bisa yakin bahwa kitalah yang akan dipilih untuk memenuhi rasio itu, terutama di kota-kota besar yang kemungkinan besar lebih banyak diminati oleh rumah sakit-rumah sakit asing dan dokter-dokter asing?

 

So?

Waktunya berefleksi!

Sudah siapkah kita?

Apa yang sudah kita lakukan untuk bersiap-siap?

Apakah sistem dan kondisi yang ada di kampus kita sekarang sudah cukup memastikan tiap lulusan FKUP akan bisa menjadi dokter mumpuni berkualitas tinggi yang sanggup bersaing di tataran global sementara tetap mempertahankan spiritualitasnya, kekhasan lokalnya dan orientasi pengabdiannya untuk masyarakat?

 

Waktunya untuk bangkit berdiri dan bergerak, Kawan-kawan!

 

By: Almira06100

(A compilation note of Panel Discussion in FKUPH, Karawaci and

National Seminar FK Unissula, Semarang)

 

 


Blog EntryOct 15, '08 10:55 PM
for everyone

BEM ATAU SENAT? BUKAN…

Kalau teman-teman pernah merasa bingung mendengar istilah Senat yang baru popular kembali di FK tahun ini, yakinlah saja bahwa kalian bukan satu-satunya orang yang seperti itu. Secara tiba-tiba tahun ini, terjadi beberapa perubahan dalam struktur kemahasiswaan kita. Termasuk, pergantian nama BEM jadi SEMA (Senat Mahasiswa). Berubah nama, berubah fungsikah? Maka wajar kalau kemudian banyak orang yang mengungkapkan kebingungannya tentang hal ini..

Sabtu pagi lalu, kami kedatangan tamu di bagian histology. Kalau saya sebut Abah Iwan, kalian pasti tahu kan? Abah Iwan sengaja datang berkunjung untuk berdiskusi dengan beberapa pengurus Senat tentang kemahasiswaan, termasuk apa yang beliau pikirkan tentang BEM dan SEMA ini.

Saat pertama pertanyaan terlontar dari Harry, Ketua Senat, jawaban Abah Iwan cukup mengejutkan saya. “Sebetulnya, bukan pembahasan BEM atau SEMA yang penting..,” Kemudian beliau melanjutkan, “Bukan pula apakah kalian semangat atau tidak semangat..” Tapi..,” Apakah kalian mengerti atau tidak tentang esensi kemahasiswaan yang kalian jalani ini.”

Begini beliau menuturkan. Kita sekarang adalah mahasiswa. Berterimakasihlah pada bahasa Indonesia, siswa perguruan tinggi seperti kita tidak dibahasakan sama dengan siswa SD, SMP atau bahkan SMA—kalau dalam bahasa Inggris kan sama saja, student. Apa maknanya? Mahasiswa berarti orang yang bisa menentukan sendiri hidupnya. Dia bisa berpikir, meyakini apa yang harus dilakukan, kemudian baru melakukannya. Dia proaktif dan dia subjek, bukan sekedar objek.

Aktivis kemahasiswaan harus memahami hakikat kegiatannya. Bahwa kegiatan kemahasiswaan itu, bukan kegiatan kelas 2 yang bisa dikesampingkan—ini adalah kegiatan kelas 1. Bahwa kegiatan kemahasiswaan bukan lagi bernilai ekstra kurikuler, ini adalah ko-kurikuler. Posisinya sejajar dengan kegiatan akademis, saling mendukung, dan tidak mungkin ditiadakan. Sebab, darimana kita belajar dan berlatih soft skill kalau bukan dari kegiatan kemahasiswaan? Mengenai pentingnya soft skill ini, bahkan disebutkan kalau di medan pekerjaan nanti di masyarakat, soft skill berbobot 70%, artinya lebih besar dari bobot hard skill. Ngerti, kan? Hard skill maksudnya hal-hal yang berkaitan dengan akademis. (Tapi tidak berarti kita bisa mengenyampingkan atau menomorduakan akademis, ya. Soalnya mana bisa kita jadi dokter kalau tidak mengerti basic science-nya, betul tidak? Makanya ada bobot 30% itu yang tidak boleh kita lupakan.)

Soft skill ini contohnya apa sih? Diantaranya, technical skill, human skill (misalnya sabar), environmental skill, dan physical fitness skill. Dan, kalian tahu, Senat punya kewajiban untuk memastikan atau minimal mem-provide semuanya pada setiap mahasiswa yang ada di kampus kita—ya, ya, termasuk kamu.

Kegiatan kemahasiswaan itu, harus menggembirakan, harus menguatkan. Dalam dinamikanya, kita akan diajari bagaimana menghadapi saat sulit, menghadapi kegagalan, belajar dan memperbaiki kesalahan, dan maju terus bergerak ke depan. Kegiatan kemahasiswaan itu melatih kita volunteerism; bagaimana kita menikmati apa yang kita kerjakan dan menganggap reward yang kita terima sebagai bonus. Maka di kegiatan inilah, kualitas kita akan benar-benar teruji. Luar biasa bukan bila kita bisa terus komitmen pada waktu, misalnya, padahal kita tidak dibayar atau digaji siapapun?

Tidak ada atasan-bawahan di dalam dunia kemahasiswaan. Ada prinsip egaliterisme (kesejajaran atau persamaan), menurut Abah. Maka inilah yang mengganjal dari penamaan BEM bertahun-tahun silam. Dalam BEM, kita berada di suatu negara. Ada presiden, ada menteri. Padahal, kata Abah, ini adalah kegiatan kemahasiswaan. Bukan negara. Bukan birokratis. Abah Iwan memang berpendapat sebaiknya mahasiswa FK sekarang lebih berfokus pada memahami esensi kegiatannya, tapi beliau juga secara tegas menyatakan, “..Disini saya berbeda dengan Shakespeare. Dia bisa bilang, ‘What is it in a name,’ tapi bagi saya nama itu penting. Nama itu adalah seperti apa kita di dalam..”

Jadi, semangat seperti apa yang dikandung nama Senat Mahasiswa yang kita usung sekarang ini? Diskusi kita tidak akan berakhir disini, Teman-teman. Kita akan terus berpikir dan bergerak, dan menikmati semua prosesnya. Tapi terlebih dahulu, izinkan saya berterima kasih pada Abah, atas inspirasinya di Sabtu pagi lalu..

 

Almira Aliyannisa

Kajian Strategis Ilmiah Senat Mahasiswa FKUP 2007-2008


Blog EntryOct 15, '08 10:53 PM
for everyone

ANTARA JAWA BARAT DAN KITA: SESAAT REFLEKSI PILKADA

Saat kita tumbuh semakin dewasa, hal yang secara alami seharusnya terjadi adalah semakin berkembangnya kesadaran dalam pikiran dan jiwa kita bahwa hidup kita ini bukan lagi hanya milik kita. Waktu kecil mungkin saja—hidupku adalah punyaku, dan orangtuaku. Tapi saat dewasa, ada rasa cinta baru yang seharusnya menyelusup jiwa kita. Terhadap masyarakat sekitar kita, terhadap daerah yang selama ini membesarkan kita atau menjadi tempat kita bertumbuh, terhadap tanah yang selama ini kita jejak untuk beraktivitas. Maka terhadap Jawa Barat, kemudian ada perasaan sayang yang membuahkan harapan: Kita ingin Jawa Barat tumbuh makmur, masyarakatnya sejahtera, dan bahagia.

Namun, menyesakkan terasa jika melihat Jawa Barat ke belakang. Jawa Barat adalah daerah sentral dengan beragam potensi. Tapi, kenapa kemiskinan dimana-mana? Pengemis, pengamen, pengangguran. Kenapa pembangunan tersendat dan tidak efektif? Terpusat di kota besar, itu pun kebanyakan hanya mall-mall megah yang berfungsi hanya sebagai peningkat konsumtivitas masyarakat, sementara masih ada sekolah ambruk dan daerah yang belum tersentuh listrik apalagi internet. Jawa Barat bukan daerah pinggiran, tapi kenapa ada masyarakat yang terpinggirkan? Mengakses fasilitas kesehatan saja tidak bisa, apalagi memastikan anak-anaknya bersekolah dengan layak ketika biaya sekolah semakin mahal dan menegaskan kenyataan bahwa orang miskin dilarang sekolah! Dan kenapa, lalu, sampah masih menggunung dimana-mana tanpa penyelesaian?

Satu hal yang kami percaya: selama nafas masih ada, selama itu pula harapan senantiasa hidup. Dan bulan April ini, harapan kami terpancang tinggi: Ada pemimpin baru terpilih. Pemimpin yang tidak hanya bisa bangga karena berhasil menduduki jabatan prestisius dan gembira karena mendapat kemudahan menyerap kekayaan dan sejumlah fasilitas; tapi seorang pemimpin yang sungguh-sungguh menyayangi daerah dan masyarakatnya, yang punya kapabilitas dan keluasan hati yang cukup untuk dapat menjalankan program perbaikan dengan efektif, efisien dan terarah. Harapan yang juga dipanasi dengan perasaan iri pada kota Depok; yang punya pemimpin baru dua tahun ini dan telah memiliki sejumlah kebahagiaan baru: Daerah dengan anggaran ter-efisien, daerah dengan angka harapan hidup ibu dan anak tertinggi, daerah peraup medali emas terbanyak pada olimpiade akademis, dan banyak lagi..

Dengan buncahan harapan itulah, Minggu siang kemarin kami menonton hasil quick count Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Kompas, dan PPKP kemarin di televisi. Ada hasil mengejutkan! Pasangan muda Ahmad Heryawan-Dede Yusuf mengungguli pasangan kuat Agum Gumelar-Nu’man Abdul Hakim dan incumbent Danny Setiawan-Iwan Sulanjana dengan angka yang cukup telak; 40%:35%:25%. Apa berarti ada harapan baru untuk Jawa Barat kami?

Ada harapan baru, kami kira. Ada janji yang bisa ditagih.

Visi HADE:    Mencapai masyarakat Jawa Barat mandiri, dinamis, sejahtera tahun 2013.

Program unggulan:

1.      Kemudahan birokrasi izin usaha dan investasi.

2.      Pengembangan agroindustri dan bahari.

3.      Ketahanan dan swasembada pangan.

4.      Pemberdayaan ekonomi rakyat, koperasi dan UKM.

5.      Pendidikan untuk semua: kaya dan miskin memiliki akses yang sama.

6.      Meningkatkan kesejahteraan guru.

7.      Beasiswa prestasi.

8.      Terserapnya 1 juta orang tenaga kerja.

9.      Pelayanan kesehatan murah.

10.  Menjaga dan mengembangkan jati diri dan martabat budaya lokal.

11.  Pemerataan pembangunan untuk semua kawasan.

12.  Pelestarian dan reboisasi wilayah-wilayah kritis (pantai, hutan, gunung).

13.  Meningkatkan kualitas pembinaan kesehatan ibu dan anak untuk mencapai generasi yang sehat dan cerdas.

14.  Pemberdayaan generasi muda.

Lalu, apa yang bisa kita lakukan? Sudah tidak zaman mahasiswa hanya duduk manis sebagai penonton, hanya sibuk memikirkan diri sendiri, tanpa kepedulian pada sekitar. Jawa Barat yang luas ini adalah tugas yang berat untuk gubernur dan wakil gubernur kita. Maka, harus kita bantu! Selain mengawasi langsung kinerja mereka selama 5 tahun ke depan, sebagai reminder perwakilan masyarakat agar mereka selalu ingat visi dan tujuan awal, secara praktis sehari-hari kita bisa menyumbang banyak dengan mengoptimalkan setiap peran yang kita punya dalam hidup. Sebagai makhluk Tuhan, sebagai mahasiswa, sebagai anggota komunitas, sebagai diri sendiri!

Disinilah, kami mengajak teman-teman untuk lebih terlibat dalam dunia kemahasiswaan! Karena suaru hari nanti kita-lah yang diharapkan dapat mengisi pos-pos sentral dan strategis di masyarakat; kita-lah community leaders masa depan! (Masih ingat 5-stars doctor zaman OSPEK, kan?) Kepekaan terhadap masalah masyarakat harus ditempa, keterampilan mengurus urusan orang banyak juga harus dilatih…Kami yakin teman-teman dapat menemukannya dengan terlibat aktif di dunia kemahasiswaan.

Let’s get involved. J

Kami yang menyayangi kalian, masyarakat, dan Jawa Barat

Lebih dari diri kami sendiri,

KAJIAN STRATEGIS ILMIAH SENAT MAHASISWA FK UNPAD 2007-2008

Almira.al@gmail.com


Blog EntryOct 15, '08 10:51 PM
for everyone

Dr. Jack: Dari Nias sampai Austria

Kalau kalian rajin ngupdate berita terkini dengan gabung milis alumni FKUP, baca-baca madding AMP atau malah ngikutin tiap hari perkembangan berita terbaru dengan baca Koran, kalian pasti udah pernah denger tentang akang kita yang satu ini. Dr. Ridwan Gustiana atau biasa dipanggil dr. Jack. Apalagi kalau kalian udah pernah ketemu orangnya, dijamin nggak bakal gampang lupa. Kenapa? Karena kekhasannya. Ya dari penampilannya yang ‘gak dokter banget’, ya dari pembicaraannya yang ngebuka mata dan nginspirasi banget.

Beruntungnya Medicinus, di antara segala hiruk pikuk Dies Natalis kemarin, kami berhasil mewawancarai dr. Jack ini. Tapi btw, sebenernya kalian udah tau belum kenapa beliau lagi happening banget? Oke, kita simak pesan dari dr. Ahmad Faried yang kami kutip dari milis alumni FKUP:


Dear my best buddy, Ridwan "Jack" Gustiana (FK Unpad angkatan 1994; AMP 1396002AR), Selamat yah untuk jadi satu-satunya orang Indonesia yang mendapat penghargaan Architects of the future 2007 dari Waldzell Institute, Austria, 17-19 September 2007 (see
http://www.waldzell.org/
<
http://www.waldzell.org/> ). Jiwa Pioneer dan peran loe dalam ngebantu korban Tsunami Aceh, Nias dan Yogya emang udah selayaknya dapet penghargaan Internasional seperti ini. Selain itu juga jiwa Entrepreneur loe dalam membuka lapangan kerja untuk temen-temen kita tenaga Medis dan Non-medis
serta penggalangan dana dari luar negri ini dalam wadah IBU for Aceh, Nias dan Yogya sangat luar biasa, thousands thumbs up:-). Jujur sebagai pren kentel dan sobat dalit, gw (selayaknya juga AMP, FK Unpad bahkan Indonesia) Salut dan Bangga buat semua achievement loe my good man. Masih banyak PR yg harus diselesaikan Jack, dan untuk itu keep-up your good work:-). Smoga dikedepannya loe makin bersinar cerah.

Ahmad Faried, MD., PhD.
Department of Neurosurgery,
Graduate School of Medicine,
Gunma University, Japan

Sambil berdiri dan sesekali menjawab dengan akrab sapaan dari orang yang melintas, dr. Jack menjawab pertanyaan-pertanyaan penasaran dari kami—kru Medicinus plus Ketua Senat kita, Harry 05 yang ikut nimbrung secara sengaja. =) Yang pertama dr. Jack paparkan adalah konsep social entrepreneur. 

Enterpreneur itu kan kewirausahaan. Mengusahakan dengan kemampuan sendiri—fasilitas, sarana, segala kebutuhan. Tapi  ga Cuma itu, seorang dokter juga memiliki title tambahan sebagai social entrepreneur, which means, segala kegiatannya kemudian diarahkan ke gimana caranya dia bisa punya benefit social sebanyak-banyaknya untuk komunitas. Gimana caranya dia bisa ngejamin kesejahteraan ga hanya pasien tapi juga dokter. Caranya? Ya ngasih apresiasi yang layak, ya menjamin peralatan dan perlengkapan yang si dokter butuhin untuk bekerja terpenuhi semua. Itulah sistem yang coba dibangun dr.Jack di yayasannya. Gimana dia bisa berperan sebagai connector—antara para pemilik dana yang tersebar di seluruh dunia, yang kadang karena kekurangan aksesnya ga bisa nyalurin dananya ke tempat yang bener2 membutuhkan, dengan jutaan rakyat miskin di Indonesia  yang memang masih perlu sokongan dan dukungan yang banyak.

Untuk itu, dr. Jack merekrut banyak tenaga muda yang peduli di IBU. Ga Cuma yang ber-background kedokteran, tapi juga paramedics, psychologists, engineers. Dan terus terang, dr. Jack juga mengakui kalau jumlah SDM kedokteran emang masih minim banget. Apa pasal? Masih jarang banget ada anak FK yang emang niat berdedikasi di tempat terpencil! (gimanapun daerah itu adalah daerah yang paling membutuhkan!)

Lha trus, dr. Jack sendiri kenapa mau, ya?

“Ini wujud rasa syukur saya,” katanya rendah hati. “Enggak semua orang bisa jadi dokter, kan? Dan pas saya sudah jadi dokter, saya hanya ingin menunjukkan bukti syukur saya dengan ingat hakikat dokter. Dokter itu melayani masyarakat.” Kami manggut-manggut. Kalau orientasinya seperti ini, ga ragu kalau kita kemudian bisa dengan objektifnya menilai mana daerah yg memang paling perlu kita layani, dan dengan ksatria terjun tanpa ragu-ragu kesana..

“Selama ini ada kendala?” Ketika mengajukan pertanyaan ini, benak kami menduga-duga bahwa dr. Jack bakal berbicara panjang lebar tentang sulit dana lah, karier yang sulit berkembang atau bahkan mungkin terror dari masyarakat—haha, kebanyakan nonton TV nih kru Medicinus! Tapi ternyata yang beliau ungkapkan adalah, “Self conflict.” Lebih lanjut lagi, “Selama ini ada benteng yang jadi gap, memisahkan antara pemerintah (Depkes) yang sebenernya bertugas memberikan kesejahteraan kesehatan,  dengan masyarakat. Saya berjuang di antara mereka, menjembatani mereka. Tapi kadang benteng itu sangat kokohnya, hingga sulit ditembus. Tidak ada itikad dari pemerintah dan itu membuat saya sangat lelah.

“Bisa jadi saat itu saya berpikir untuk berhenti. Menjalankan kehidupan yang lebih mudah.” Tapi, “Segala akan berubah hanya dengan melihat seorang ibu dan anaknya yang membutuhkan pelayanan kesehatan, yang mungkin melintas di depan rumah. Saat itu nurani akan terketuk, dan saya akan kembali pada jalan saya semula.”

Sekarang, Yayasan IBU udah lumayan well-established, penghargaan level dunia pun udah berhasil disabet, what’s next nih? “Saya pengen lebih banyak berada di kampus FK, berinteraksi sama mahasiswa. Mengenalkan ‘dunia lain’ ke mahasiswa. Memperluas cakrawala berpikir mahasiswa—ga melulu lulus dokter lu mesti jadi spesialis dan hidup nyaman dengan gaji gede di kota besar. Banyak hal kok! Juga supaya mahasiswa bisa belajar untuk lihat kenyataan, keluar dari zona nyaman dan mulai ngoptimalin energy besar mereka untuk kerja nyata..”

Hal ini disetujui dr. Tri, PD III kita yang sempat bergabung sesaat saat melintasi sisi Timur Plaza. “Kita kan punya program internship ya. Ya nanti kita rancang supaya program ini salah satunya juga bisa bekerjasama dengan yayasannya ini (magang di yayasan). Sebab dokter itu kan nantinya tidak hanya di puskesmas tapi salah satunya juga di yayasan-yayasan.”

Oke, kita tunggu tanggal main realisasi rencana ini!


ROAD TO IDUL FITRI: SAATNYA MEMAKNAI

Dimulai Dari Hari berakhirnya Ramadhan,

Saya memaknai lagi seperti apakah Ramadhan saya tahun ini. Ini kado istimewa dari Allah swt. Satu bulan diantara 11 bulan sebelumnya. Di awal Ramadhan saya udah refleksi, saya seperti apa sih selama ini? Sejauh apa saya udah berkembang? Atau saya malah menyimpang? Saya inget-inget lagi dosa-dosa dan kesalahan saya. Aduh, masih mungkin dimaafkan ga ya? Tapi Allah Maha Pengampun. Semua dosa akan diampuni, kecuali dosa syirik. Dan saya berharap apa yang saya lakukan sebulan ini bisa bikin Allah meridhai saya, sehingga kemudian saya bisa melanjutkan hidup  dengan jiwa yang bersih..Ramadhan kan bulan ampunan!

Banyak amalan special di bulan ini. Sahur sebelum subuh sehingga rumah dan komplek perumahan udah ramai bahkan sebelum matahari mulai berangkat untuk bertugas; shaum seharian sehingga saya ga bisa lagi makan cemilan yummy di jeda antara tutorial (hehe); berubah pola makan jadi mudah-mudahan lebih sehat; rame-rame ngantre ta’jilan dan menghadapi saat paling membahagiakan untuk orang yang berpuasa: pas denger azan magrib dan menyuapkan sendok pertama kolek pisang ke mulut kita; tarawih sebelum bikin learning issue...Wah, banyak yang beda deh bulan ini..

Malam sebelum Lebaran,

Orang-orang ramai bertakbir di masjid. Bahkan ada yang turun sampai ke jalan-jalan. Malam ini biasanya saya ga bisa tidur karena terlalu antusias. Besok kan idul Fitri! Dan idul Fitri is a big day! Tapi saya tetap maksain diri untuk tidur karena besok pun mesti bangun pagi-pagi lagi. Ya shalat subuh, ya siap-siap untuk shalat ied berjamaah!

Wah, bangun tidur dengan iringan takbir dari masjid..Rumah juga udah ramai dengan persiapan salat ied. Senangnya waktu jalan kaki sama-sama ke lapangan, ketemu tetangga-tetangga. Semuanya jalan kaki. Yang biasanya jarang ketemu karena sibuk kuliah atau kerja, hari ini bisa saling nyapa, salaman, berpelukan..Ngucapin “Selamat Idul Fitri ya! Maafin kesalahan-kesalahan saya, ya! Saya maafin kamu kok..Hehe..”..Orang-orang pakai baju yang bersih dan rapi. Rata-rata baru, tuh! Masih kinclong-kinclong. Meski ga baru juga gak apa-apa! Yang penting pakai baju kita yang terbaik. Idul Fitri akan semakin bermakna kalo kita ngerayainnya dengan sederhana, artinya ga berlebihan. Karena Allah swt paling benci sama yang namanya pemborosan. Nah, sebenernya kita puasa Ramadhan capek-capek supaya Allah sayang sama kita, kan? Apa jadinya kalo ternyata di hari ini, Allah malah kesal sama kita..:(

Ngumpul bareng orang banyak di satu lapangan, selalu bikin saya terkesan. Sama-sama sujud, sama-sama rukuk..Wah, mudah-mudahan aja ga Cuma solid hari ini, tapi juga di hari-hari selanjutnya..Saat sujud, saya suka terharu sampai nangis (hehe). Merinding aja. Sedih aja, Ramadhan taun ini udah berlalu padahal saya ga yakin udah ngoptimalin dan ngelakuin yang terbaik atau belum, padahal tahun depan saya ga tau apa masih bisa ketemu Ramadhan..T_T Yaa, mudah-mudahan amalan saya diterima!!

Sampai rumah, aroma lezat udah menanti..Ketupat, opor, sambel goreng ati, belum lagi kue-kue kering yang renyah! Nanti pas silaturahmi ke rumah Saudara-saudara pasti dipaksa makan lagi, makanya harus antisipasi nih supaya Idul Fitri ga malah jadi hari berlebih-lebihan, pemalesan, dan penggendutan (hehe). Sebelum makan, ga lupa cium tangan Ayah dan Ibu. Minta maaf..Udah banyak banget yang mereka lakukan sama saya tapi saya belum bisa melakukan apa pun untuk mereka. Belum cukup lah, dan pastinya ga akan pernah cukup untuk membalas jasa dan kebaikan mereka sama saya..Malah, seringnya saya malah bikin mereka marah, kesal, khawatir, karena ga nurut, ga mau ngerti..Makanya hari ini, sambil minta maaf, saya juga janji, ke depannya  saya bakal berusaha untuk jadi anak yang lebih baik bagi mereka.

Hari ini saya sangat bahagia. Dan hal ini bikin saya tercenung, apa semua muslim merasakan kebahagiaan yang sama? Gimana dengan teman-teman yang ga punya rumah—entah karena emang tunawisma dan gelandangan, atau baru kena bencana jadi mesti tinggal di penampungan..Gimana dengan temen-temen yang ga punya cukup uang untuk beli makanan yang layak sehingga hari lebaran pun terpaksa mereka lewatkan dengan perut kelaparan?

Ketika Ibu bilang sudah membayar zakat fitrah, saya sedikit lega. Mudah-mudahan zakat ini bisa sampai ke tangan semua orang yang membutuhkan. Mudah-mudahan semua muslim yang mampu,ga lupa membayar zakat. Supaya semua muslim ga Cuma mikirin diri sendiri, tapi jadi lebih peduli, punya solidaritas social yang tinggi. Bisa ngerasain penderitaan orang lain—apalagi kita kan udah berpuasa dan ngerasain gimana kelaparannya orang yang ga punya makanan selama sebulan penuh..Dan saya rasa, ini yang ingin Allah ajarkan sama kita dengan ngewajibin kita bayar zakat..

Idul Fitri, akhirnya ga jadi sekedar hari.

Tapi lebih dari itu, jadi momentum. Starting point untuk saya ngebuka lembaran baru di kehidupan saya. Dengan semangat baru, target-target baru. Saya kan udah di-recharge bulan ini. Saya bisa ngukur prestasi Ramadhan saya, apa aja yang udah saya dapet selama sebulan ini, tapi pembuktian sejauh apa saya udah berkembang baru bisa ditentukan setelah saya ngejalanin 11 bulan ke depan, sampai ketemu Ramadhan lagi. Apa saya makin baik setelah Ramadhan?

Kalau pas Ramadhan udah belajar kejujuran karena meskipun lagi sendirian saya tetep komit untuk ngelanjutin puasa dan ga diem-diem makan (pokoknya cule), mudah-mudahan ke depannya pun saya bisa jadi orang yang jujur. Yang bicaranya jujur, yang perilakunya jujur, yang hatinya jujur.

Dan menghayati takbir yang dikumandangkan di malam lebaran, saya berharap semoga mulai saat itu hidup bisa saya jalani dengan lebih yakin. Ingat Allah banyak-banyak, ingat sebetulnya saya diciptakan untuk apa, hidup saya mau saya bawa kemana, dan ingat kalau Allah selalu memperhatikan saya, selalu bersama saya makanya ga ada hal yang mesti saya takutkan.

Itulah kenapa saya selalu nunggu-nunggu hari ini. Saya yakin kalian punya lebih banyak lagi pengalaman dan pemaknaan yang ga kalah seru. Tapi yang jelas, mudah-mudahan kita bisa jadi manusia yang lebih baik lagi, yang bisa ngasih kontribusi demi FK yang lebih baik, Indonesia yang lebih baik, dunia yang lebih baik!

Kita sama-sama ya.

Bandung, 28 September 2007

Almira Aliya

 

 


Blog EntryOct 15, '08 10:40 PM
for everyone

MICHIKO NANAO: “SAYA CINTA INDONESIA!”

Sungguh gembira rasanya ketika saya ditawari untuk menjadi guide/escort bagi mahasiswa Universitas Gunma yang sedang berkunjung ke FK Unpad, kampus kita tercinta di dua acara yang berbeda: skill lab 2005 dan telekonferensi dengan Prof. Keith L. Moore di Padjadjaran Medical Fair 2008. Panitia memperkenalkan saya pada Michiko Nanao. Selain sangat cantik—Teh Manik 2003 bahkan menyebutnya menyerupai Michelle Branch, Michiko juga amat baik dan ramah. Ia dengan antusias menanggapi permintaan wawancara untuk Medicinus. Jadi, berikut adalah hasil pembicaraan kami.

Kita mulai dengan perkenalan diri ya.

Ok. Nama saya Michiko Nanao. Saya lahir tanggal 13 September 1983 di Saitama. Ya, ya, Saitama terkenal dengan klub sepakbolanya, Urawa Reds! (menanggapi saya yang tiba-tiba antusias saat mendengar nama klub sepakbola favorit saya ^^) Pada usia ke 3 tahun, keluarga saya pindah ke Tokyo dan kami tinggal di sana cukup lama. Sekitar 15 tahun sebelum akhirnya pindah kembali ke Tokyo. Ya, tapi sekarang tentu saja saya tinggal sendiri di apartemen di Gunma. Saya nggak memilih tinggal di asrama kampus karena peraturannya yang begitu banyak. (tertawa) Lagipula, memang jarang sekali orang yang berminat tinggal di sana. Dari 100 orang per angkatan mungkin hanya 5. Karena bangunan asrama cukup sempit dan dipergunakan oleh semua fakultas, maka jatah FK juga terbatas..

Ceritakan keluargamu, ya.

Saya anak pertama dari dua bersaudara. Ayah bekerja di bank sedang ibu adalah ibu rumah tangga. Adik perempuan saya juga sudah kuliah di jurusan Pendidikan Bahasa Inggris di sebuah universitas swasta di Saitama—aduh, saya lupa namanya! (tertawa)

Hobi kamu apa?

Bermain music, terutama biola dan piano. Tapi, saya juga suka mendengarkan music! Hm, selain itu, saya juga suka main bola voli, tenis dan ski. Di kampus saya ikut klub bola voli juga. (tersenyum) Oh, ya, sekarang saya lagi sering latihan masak. Terutama makanan kecil atau camilan.

Sekarang kamu tingkat 5 ya, Michiko?

Ya, kami semua tingkat 5—saya, Tomomi, Takuma dan Keisuke. Tapi, saya paling tua diantara mereka semua. Soalnya, saya baru masuk kedokteran setahun setelah lulus SMA. Ya, setahun itu akhirnya saya habiskan penuh untuk belajar lagi untuk ujian seleksi masuk universitas di Jepang. Sebenarnya untuk masuk ke kedokteran itu belajarnya berat sih, tapi karena saat itu teman-teman sekelas saya sangat menyenangkan, jadi ya terasanya seru saja.

Oh ya, tahun ke 5 itu di Jepang adalah waktunya memasuki tahapan clinical training (kalau disini ko-as kali ya..). Jadi, dari 6 tahun masa pendidikan dokter, 2 tahun awal untuk belajar mata kuliah dasar seperti anatomi, dll, 2 tahun berikutnya terbagi atas sistem-sistem dan 2 tahun terakhir adalah clinical training..(wah, ga jauh beda sama kita, ya.)

Oh ya, ceritakan dong kenapa kamu bisa sampai ada disini. (Hehe, kok kedengarannya aneh ya pertanyaan ini. Saya baru sadar sekarang.)

Ini untuk memenuhi tugas mata kuliah Public Health. Sebetulnya bisa memilih macam-macam departemen, dan tiap departemen punya task berbeda, tapi saya memilih PH. Untuk pergi ke sini, saya harus melalui dulu serangkaian ujian lisan, diantaranya ditanyakan kenapa saya ingin memilih PH dan pergi ke Indonesia, dll.

Ngomong-ngomong, kenapa sih kamu pengin jadi dokter?

Wah, ceritanya panjang banget. Tadinya saya ini punya macam-macam minat. Diantaranya: perkembangan anak (kodomo hattatsu), nutrisi (eiyou), kesehatan ibu dan anak, Chinese medicine, dan ilmu pengetahuan tentang tubuh manusia (shukumi). Saya minat ke semua bidang itu dan berpikir kalau saya hanya melakukan salah satunya, nggak bakal seru. Nah, karena semuanya bisa saya pelajari di kedokteran itulah, akhirnya saya memilih kedokteran.

Sudah ada rencana ingin melakukan apa setelah lulus? Kira-kira 2 tahun lagi, ya?

Iya. Sebetulnya, masih belum jelas sih. Tapi sampai saat ini, saya cukup berminat untuk jadi ginekolog, ahli THT atau mungkin pediatris. Tapi ya mungkin saja nanti berubah lagi. Mungkin tinggalnya sih di Jepang saja.

Michiko, bayangkan saya orang yang nggak tahu apa-apa tentang Jepang, ya. Saat saya bertanya, “Jepang itu negara seperti apa?”, kamu bakal jawab bagaimana?

Jepang itu, sama seperti Indonesia, adalah negara kepulauan. Jepang punya empat musim yang berbeda dan pemandangan alam yang sangat indah. Nah, untuk melihat pemandangan menakjubkan itu, terutama saat pergantian musim, ayo kunjungi Jepang! (hehe, tiba-tiba jadi heboh.) Selain itu di berbagai tempat juga banyak sekali bangunan tradisional dan budaya-budaya tradisional yang lain. (ya, ya, saya terpekur disini. Jepang itu salah satu negara tercanggih di dunia, tapi masyarakatnya di saat yang sama juga tetap mempertahankan dan bangga pada budaya aslinya.) Sebagai tambahan, orang Jepang juga punya karakteristik khas (tokuchou). Diantaranya, modesty, bisa mengendalikan perasaan—saat punya masalah bisa tertawa, tapi ketika ada di suatu komunitas asing, biasanya memakan waktu lama untuk beradaptasi.

Nah, sekarang pertanyaannya, bagaimana kamu mendeskripsikan Indonesia?

Indonesia! Saya baru pertama kali ke Indonesia—sebelumnya pernah ke Amerika dan Thailand, tapi saya sangat-sangat menikmati kunjungan saya ke sini. Orang Indonesia ramah-ramah dan baik-baik! Makanya sedih sekali besok (senin 18 februari 2008) saya sudah harus pulang ke Jepang..

Makanya nanti datang dan main lagi kesini, ya!

Tentu! (antusias) Oh ya, Moi, tolong tulis di majalah ya, “SAYA CINTA INDONESIA!” (dia ngucapin ini pakai bahasa Indonesia, lho..)

Arigatou ne, Michiko! Watashi tachi mo sugoku tanoshiku jikan sugoseta, yo! Indonesia ni kite kurete arigatou! (Nuhun ya, Michiko! We’re also having a great time here. Thanks for coming to Indonesia!) [Almira]

 

 

 


KEMAHASISWAAN 2006: MAU DIBAWA KEMANA?

REFLEKSI SETAHUN KEMARIN: KETIKA KITA BELAJAR

Tentu tidak adil kalau hanya bertanya pada segelintir orang yang terlibat tentang bagaimana pengalaman mereka selama setahun ini bergelut di kemahasiswaan. Ada beberapa orang yang sudah benar-benar masuk ke dinamika kesehariannya, ada yang baru akan menjajaki, ada pula yang masih belum menemukan ketertarikan dan memilih langsung pulang ke kost begitu ketua grup menutup tutorial. 2006 memang macam-macam kan? Tapi dr.Tri menegaskan bahwa seharusnya pada tahun ini kita banyak belajar. Agak mengejutkan saya saat beliau bilang seharusnya kita belum menjadi ujung tombak kegiatan. Mahasiswa tahun kedua, belajar saja dulu.

Tentang belajar, apa yang sudah teman-teman 2006 pelajari dari pengalaman berkemahasiswaan setahun ini? Begitu banyak yang terjadi, begitu kasat mata untuk dapat ditarik hikmahnya. Pergantian pembantu dekan III membawa banyak inspirasi ke arah perubahan mendasar: nama organisasi—karena nama menyiratkan harapan dan visi—dan struktur—karena struktur menentukan fungsi, dan fungsi menentukan efek yang akan ditimbulkan. Terlebih, sekarang saatnya menyadari bahwa apapun harus kita pahami esensinya. Tidak sekedar karena tradisi, tidak sekedar karena kita melihat pendahulu kita melakukan hal yang sama.

Tapi ini bukan hal yang mudah untuk dipahami. Apa yang kita maksudkan belum tentu sampai secara tulus ke dalam pengertian komunikan. Semangat untuk memperbaiki dari akar kadang bisa ditafsirkan sebagai rangkaian upaya memecah konfrontasi; mengganggu keharmonisan yang sudah tercipta serta memperuwet hal yang rumit. Tapi itu bukan. 2006, kita sedang belajar, dan ada harapan bahwa kita belajar untuk bersatu, untuk mewujudkan sinergisasi, kerendahan hati, dan memikirkan masyarakat dan negara jauh lebih banyak daripada kesenangan kita sendiri. Bisakah kita?

Setahun kemarin ini, saat struktur belum lagi stabil dan pada dampaknya fungsi kemahasiswaan pun belum optimal, ada satu agenda program yang entah mengapa terasa mendesak untuk direalisasikan. Tidak main-main, berskala nasional. Dan belum tuntas kita membenahi rumah kita, sudah sibuk pulalah merencanakan jadwal dan mengerahkan banyak sumber daya menyambut tamu dari penjuru nusantara. Apa yang teman-teman 2006 rasakan? Apa pelajaran yang bisa diambil?

Pada gilirannya, idealisme orang tua kita di dekanat membimbing kita untuk tidak hanya hidup secara konvensional. Berpikir inovatif, berpikir kreatif, berorientasi negara: apa yang bisa kita lakukan untuk menawarkan solusi? Maka seminar kedokteran keluarga yang mulanya ‘hanya’ mendatangkan pembicara untuk kita dengarkan pun beralih menjadi suatu forum mahasiswa. Mahasiswa yang menjadi sumber: memaparkan analisis mereka tentang kenyataan yang telah terjadi di daerah mereka, apa masalahnya, apa kekurangannya, lalu menyuguhkan gagasan-gagasan untuk menjadi bahan masukan bagi pemegang kebijakan negara. Sudah saatnya pemerintah memang dibantu dengan lebih proaktif oleh kita mahasiswa.

Apa yang teman-teman 2006 pikirkan?

MENUJU APRIL; ERA 2006 MENJELANG

Sementara waktu terus bergulir dan sebentar lagi tibalah saat kita, 2006 yang akan menjadi pewarna utama kemahasiswaan kampus kita. Apa yang akan kita beri untuk almamater? Apa yang bisa kita hadiahkan untuk anak negeri yang sudah membiayai kuliah kita, sehingga kita bisa berkuliah dengan biaya sedemikian murahnya? 2006 punya demikian banyak potensi, tim yang solid, sumber daya-sumber daya yang berkualitas, kemapanan akademis yang sudah relatif terbangun baik. Maka, tidak pantas jika kita hanya bisa bergerak biasa saja. Harus berbeda! Harus semakin baik!

Sedikit catatan yang menghenyakkan hati tertoreh dalam perjalanan pulang dari Malang. Catatan itu tentang selorohan rekan dari BEM FK Universitas Brawijaya yang berdiskusi dengan kami saat studi banding lalu. “Dana kami nggak ada setengahnya dana Senat FK Unpad, Mbak.” Masa? Tapi kemahasiswaan di Unibraw terasa sedemikian hidupnya, terasa optimal berkembang departemen-departemennya. Saya merasa malu. Dan menjadi semakin malu saat berkunjung ke unit penelitian mahasiswa milik mereka. “Setiap mahasiswa baru diwajibkan membuat satu karya tulis ilmiah untuk dilombakan di tingkat fakultas, universitas lalu nasional,” mereka bercerita, “Maka kami memfasilitasi mereka dengan mengadakan pelatihan membuat karya tulis ilmiah..” Pindah ke Surabaya, rekan-rekan dari Lembaga Pers di Unair juga menjelaskan tentang jurnal terbitan mereka. “Ini hasil penelitian mahasiswa yang kami terbitkan, lalu kami sosialisasikan ke berbagai fakultas dan universitas..”

Belum selesai keterpanaan saya, suatu hari saya bertemu dengan Sekjen ISMKI yang berasal dari Solo. Lagi-lagi tentang dana, dia mengejutkan saya dengan menyebut nominal maksimal yang bisa kemahasiswaan manfaatkan selama setahun: 230 juta rupiah. Tampak besarkah? Tapi coba bandingkan dengan jumlah yang bisa kemahasiswaan FK Unpad manfaatkan: 1,3 miliar. Jadi?

“Memang hanya sedikit jumlah uang yang bisa kami dayagunakan,” sang Sekjen mengangguk menanggapi. Tapi saya melihat kesungguh-sungguhan dari cerita-ceritanya tentang suka duka berkemahasiswaan di sana. Dan pertanyaan kembali pada kita: Sudah sekuat apakah kita bersungguh-sungguh? Dimanapun kita berada, di ranah manapun kita beraktivitas, sudahkah kita bersungguh-sungguh? Sudahkah kita bersyukur atas semua kemudahan yang kita punya: kemudahan dana, dukungan penuh dari fakultas, daerah yang  aman dan tentram (bukan daerah konflik atau rawan bencana), atau bahkan intelektualitas kita dan kesehatan hati serta jasad kita?

Teman-teman 2006, sebentar lagi tibalah masa kita. Dan pilihan kita kemudian akan menentukan bagaimanakah waktu ini akan terlalui: penuh perbaikan dan pengembangan sehingga dikenang sejarah fakultas kedokteran Universitas Padjadjaran sebagai sebuah generasi emas yang pernah ada dan menyebarkan cahaya kebermanfaatannya pada semua; ataukah angkatan biasa yang hanya memikirkan dirinya sendiri dan akan terlupakan dengan cepat sekali.

Tergantung mau kita bawa kemana kemahasiswaan yang akan kita motori sebentar lagi. [Al]


Blog EntryOct 15, '08 10:31 PM
for everyone

HEI MABA, INI OSPEK!

OSPEK terkeren di muka bumi ini…

Saya bertanya-tanya, waktu kamu baca tulisan saya ini, kamu sudah melewati fase kekagetanmu tidak ya. Yah, fase kekagetan yang bisa dimengerti. Suatu fase dimana kamu merasa kaget karena kegiatan Orientasi Pengenalan Kampus (lebih popular dengan OSPEK) yang kamu alami di Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran ternyata berbeda kontras sekali dengan apa yang kamu bayangkan sebelumnya.

 

Mungkin kamu kebanyakan baca cerita fiksi tentang OSPEK yang sadis, tidak manusiawi dan penuh perpeloncoan. Mungkin kamu baru dengar curahan hati kakak kelasmu waktu SMA—dan ga kuliah di FK Unpad—yang menceritakan penderitaan dia selama jadi mahasiswa baru, dan kemudian mengompori kamu untuk punya harkat dan martabat, jangan menerima begitu saja perlakuan semena-mena kakak kelas. Hehehe. Atau baru saja nonton video penyiksaan di IPDN?

 

Satu hal yang pasti: itu semua memang benar terjadi, dan ya memang kenyataan kalau beberapa tahun silam pernah ada kasus meninggalnya mahasiswa baru sewaktu menjalani masa OSPEK di kampusnya—yang pasti dia ga kuliah di FK Unpad. Ya itu semua di atas bisa dikategorikan OSPEK juga, tapi dengan tambahan label: OSPEK yang kuno.

 

Mahasiswa itu insan intelektual! Wih, dari sekian ratus juta penduduk Indonesia yang merasakan matahari yang sama, angin yang sama, dikitari bulan yang sama dan menginjak bumi yang sama, hanya ada kurang dari belasan persen yang punya kesempatan langka untuk jadi mahasiswa! Yap, kamu adalah makhluk langka. Kampus kita ini adalah tempat langka, dan itulah sebabnya, sama sekali ga pantes jadinya, kalau yang terjadi di sini bukannya pembelajaran, pencerahan, inspirasi, tapi malah adu jotos, teriakan-teriakan, dan segala macam hal yang bisa bikin kita meringis karena malu mendengarnya.

 

Di FK Unpad kita diajarkan untuk hidup secara ilmiah. Segala sesuatu yang kita lakukan, harus ada alasannya, ada rationale-nya. Ga diterima kalau melaksanakan sesuatu hanya karena tradisi. Memangnya kita yakin apa yang dilakukan pendahulu kita itu adalah hal yang benar? Dan melakukan sesuatu tanpa esensi itu adalah hal yang memalukan. Itulah yang menyebabkan kampus kita punya paradigma yang agak beda tentang OSPEK.

 

Apa yang beda? OSPEK di FK Unpad benar-benar bertujuan supaya kamu dan teman-temanmu yang lain angkatan 2008 bisa lebih siap menghadapi dunia kuliah, yang saya jamin, bakal bikin kamu mengalami perubahan-perubahan yang lumayan besar dalam hidup kamu. Tapi tentu aja, apapun yang kita punya kan ga bakal ada manfaatnya kecuali kita manfaatkan. Jadi, ya terserah kamu, mau merutuk dalam hati karena mesti duduk lama-lama, mengomeli panitia karena waktu tenangmu berkurang, atau…bersyukur karena kamu masuk ke kampus yang kondusif untuk belajar dan membuat keputusan besar untuk mengambil manfaat sebanyak-banyaknya dari proses OSPEK!

 

SELAMAT MENJALANI OSPEK PERTAMA DAN (HOPEFULLY) TERAKHIR DALAM HIDUPMU, Pluripotent Student… J

 

Lapangan Parkir Belakang Perpus Pusat ITB, 15 Agustus 2008 (nunggu Fadhlan)

Untuk Andrew dan Ghea

almiraaliya@yahoo.co.uk


Blog EntryOct 15, '08 10:28 PM
for everyone

SELAMAT! KAMU TELAH (BENAR-BENAR) MENJADI MAHASISWA KEDOKTERAN

 

Masih terasa mimpi ga menjadi mahasiswa kedokteran?

 

Seingatmu kamu masih deg-degan menghadapi Ujian Nasional, dengan seragam putih abumu yang bersejarah, dan tiba-tiba saja sekarang kamu sedang mengantre untuk mendapatkan Kartu Tanda Mahasiswa. Rasanya malah baru saja menawar balon merah putih karena panitia MOS di SMA mensyaratkan kamu membawa itu untuk hari pertama MOS sekaligus juga pita merah putih yang harus diikatkan di rambutmu, eh ternyata sekarang ketika kamu menoleh ke sekeliling, yang kamu lihat adalah teman-teman baru, yang mungkin terasa masih asing, tapi entah bagaimana caranya juga dengan cepat menjadi akrab.

 

Bagaimanapun, selamat, ini bukan mimpi. Kamu benar-benar telah menjadi mahasiswa kedokteran!

 

Bagaimana kamu bisa ada di sini?

                                                              

Apa sejak kecil memang sudah terbayang dengan jelas di benakmu bahwa suatu hari kamu akan jadi seorang mahasiswa kedokteran, dan kini perasaanmu benar-benar bahagia karena mimpimu jadi nyata? Atau kamu ada di sini karena dukungan penuh keluarga yang mengomporimu dan membuatmu yakin kamu bisa dan pantas menjadi dokter? Apakah ini keinginanmu? Atau sebenarnya kamu punya mimpi lain tapi orang tua menentangmu karena menjadi dokter terasa lebih prospektif daripada profesi lain? Apa hatimu baru benar-benar bulat untuk menuliskan kode jurusan 260143 di menit-menit terakhir pengumpulan formulir SNMPTN? Apa hatimu bahkan belum benar-benar bulat dan kamu memikirkan prospek SNMPTN tahun depan?

 

Bagaimanapun, selamat, inilah takdirmu ke depan. Kamu benar-benar telah menjadi mahasiswa kedokteran!

 

Setiap orang menjalani kehidupannya sendiri, dengan pikiran, jiwa, hati dan jasad mereka sendiri. Kamu pun pasti punya alasan sendiri ketika satu hari kemarin, akhirnya kamu menganggukkan kepala dan memutuskan bahwa kamu mau menjalani sisa kehidupanmu yang berharga sebagai seorang dokter. Dan saya ga akan mengucapkan hal lain kecuali: Selamat! Ga semua orang berani mengambil langkah sebesar ini. Menjadi dokter itu tidak mudah, semua orang juga tahu.

 

Apa yang kamu sendiri bayangkan tentang menjadi seorang dokter?

 

Saya sungguh berharap imajinasimu jauh lebih kreatif daripada sekedar membayangkan sesosok tubuh berjas putih, duduk menunggu di klinik hingga datangnya pasien-pasien berpenyakit untuk dianamnesa—ayo terbiasalah dengan istilah-istilah semacam ini, diperiksa, dirujuk ke lab, dituliskan resep sambil mengucapkan salam perpisahan: Kalau ada apa-apa Ibu bisa datang ke sini lagi. Tolong yakinkan saya bahwa mimpi dan harapanmu lebih luas!

 

Dunia kesehatan yang akan mulai kamu masuki ini, adalah dunia yang benar-benar luas, dan benar-benar indah. Inilah dunia yang luas: kamu bisa pergi ke mana saja di dunia ini dan menyadari, bahwa dimanapun kamu berada, kamu selalu dibutuhkan! Sahabat saya mendefinisikan tujuannya menjadi dokter lewat sepenggal kalimat yang sangat menginspirasi berikut: To heal and to give hope. Sembuhkan! Tidak hanya jasadnya, tapi juga jiwanya. Sembuhkan! Tidak hanya menghilangkan penyakitnya, tapi juga mencegah agar mereka tidak mengalami penderitaan dan kesakitan yang sama lagi suatu hari nanti. Pula, jangan sampai ada orang lain yang sampai mengalami kesakitan yang sama. Siapkah dokter? Siapkah kamu menjadi pemelihara harapan masyarakat sekitarmu, tempat mereka menggantungkan hidup dan sepenuhnya mengandalkanmu? Saya masih merinding hingga sekarang jika membayangkan besarnya tanggung jawab ini. Saya harap kamu juga bisa mulai merasakannya.

 

Terompet perang sudah dibunyikan, perjalanan barumu sudah akan dimulai. Siapkah? Palgunadi T. Setyawan pimpinan Astra pernah bercerita tentang bagaimana ia memaknai takdirnya. “Bagi saya setiap keputusan yang saya ambil adalah takdir yang terbaik untuk saya. Maka, saya tidak akan pernah menoleh ke belakang dan bertanya mengapa. Yang saya lakukan adalah melihat ke depan dan bertanya bagaimana: bagaimana agar saya bisa mengisinya sebaik-baiknya.”

 

Yap, hidup itu ga butuh penyesalan, tapi penyelesaian. Masa 3.5 tahun yang berharga akan segera dimulai. Mudah-mudahan tulisan ini bisa bermakna sesuatu, yaa..minimal supaya kamu tahu bahwa saya, kami, kakak-kakak kalian, menyelamati kalian untuk masuknya kalian ke kampus ini, menjadi anggota baru keluarga kita yang solid dan hangat ini. Selamat! J

 

Jatinangor-Bandung, 14 Agustus 2008

Thx to Isra, There, Nini, Tanri, My Best Friend Nada, Inspiring Rasyid.

 

almiraaliya@yahoo.co.uk

 

 


Blog EntryOct 4, '08 2:26 PM
for everyone

Bukan Thailand tapi Malaysia.

Harry Mahathir menetapkan Senin sore sebagai jadwal rutin rapat pimpinan Senat maka meskipun libur, selalu kusempatkan untuk meninggalkan Bandung jam 2 siang dengan bis Damri untuk hadir tepat waktu di ruang Senat di Jatinangor. Tapi sore itu, ruang Senat kosong, dan Harry Mahathir kelihatan bersantai-santai bersiap-siap main bola dengan tim 2005 di Plaza.

Aku: Rapatnya ga jadi?

Harry: Iya Moi, ga jadi,... (Entah ada halangan apa aku sudah lupa).

"Agak mengesalkan," komentarku saat menceritakan kejadian ini pada adik-adik mentor 2008 di SMA 3 dulu. "Seharusnya kalau memang ga jadi, ada SMS pemberitahuan sejak beberapa jam sebelumnya kan? Jadi T'Moi ga perlu terburu-buru dan berlari-lari mengejar bis Damri untuk ke Jatinangor di hari Senin. (yang sakral untuk angkatan tahun ke-2 waktu itu--hari libur!!)"

Adik-adik mengangguk-angguk, masih menyimak cerita yang tentu belum selesai. "Kang Harry meminta maaf," lanjutku. "Dan kemudian malah menyodorkan HPnya untuk menunjukkan SMS dari Pak Iyat, Kepala Sub Bagian Kemahasiswaan di FK Unpad: Besok ditunggu untuk Seleksi Beasiswa di Unpad Dipati Ukur, jam 9 tepat. Dokumen menyusul saja."

Ok, kekesalan sekejapku segera enyah dan kami sepakat untuk ikut seleksi itu keesokan paginya. Dan agak kaget aku, ga ada lagi anak FK lain yang hadir untuk seleksi.

Aku: Kenapa? Apa ga ada yang minat?

Harry: Ga tau. Tapi udah kujarkom ke semua Kabid, kok. 

Aku: Terus, ini seleksi beasiswa apa sebetulnya?

Harry: Ga tau juga.

"Lho," kata adik mentorku, "Teteh ikut seleksi tanpa tau pasti itu beasiswa apa?"

"Iya," kataku nyengir. Aku baru tahu sebulan setelah seleksi itu. Waktu itu hari Rabu, jam kemahasiswaan di ruang Senat, aku baru menyelesaikan kajian persiapan Konferensi Makassar bulan Mei ketika tiba-tiba Kang Harry berteriak-teriak di depan pintu ruang Senat. 

Harry: Moi! Kita lulus! 

Aku: Iya?? Wah! Terus, sebetulnya itu program apa?

Harry: (nyengir) Ga tau.

Kata Bu Dewi beberapa hari setelahnya saat kami memenuhi panggilan ke Sub Bagian Kemahasiswaan di Unpad, "Program Beasiswa Unggulan dari Depdiknas untuk Aktivis Mahasiswa. Ada sejumlah dana untuk tiap orang yang akan diinvestasikan dengan pengiriman ke satu negara ASEAN (Thailand, Malaysia, Brunei, Filipina atau Papua Nugini--seriusan) selama sebulan plus beasiswa berupa dana untuk iuran kuliah per semester.."

Tapi itu setahun yang lalu ketika angkatan Kang Panji, Ketua Senat sebelum Kang Harry. Pada tahunku, Indonesia baru saja mengalami kenaikan harga BBM besar-besaran sehingga Diknas memutuskan mengubah beberapa kebijakan: Dana dipangkas  dan segala program kemudian dialihkan ke universitas masing-masing. Dan beginilah kebijakan Unpadku: pengiriman 9 orang mahasiswa ke Malaysia selama 9 hari..

"Jadi, Malaysia Teh?" Adik-adikku kelihatan antusias.

"Iya," kataku, "Dan tahu apa hal yang paling jadi pelajaran?"

Alasan kenapa ga ada pengurus Senat lain yang ikut seleksi adalah karena jarkom yang harusnya diteruskan Kang Harry ke 3 Kabid: Teh Avi, Putnad dan Kang Aziz ternyata terputus. Di bidang 1 sendiri jarkom itu terputus karena saat itu kebetulan banget Teh Avi lagi mengganti kartu SIM di ponselnya: biasanya yang aktif IM3 tapi hari itu entah kenapa 3 yang aktif, dan akhirnya SMS jarkom Kang Harry telat sampai. 

Jadi harusnya aku juga ga dapet jarkom itu! Soalnya harusnya aku baru dapet jarkom setelah Teh Avi, sejajar dengan Fadli (Kasie Penpro), T'Njin (Kasie P&K) dan T'Ulfa (Kasie SPU). Tapi karena sore itu entah kenapa aku memaksakan diri datang ke kampus meskipun panas menyengat dari Rancamanyar--iya memang, berlebihan--aku jadi tahu jarkom itu.

"Artinya?" tanyaku pada adik-adik mentor kesayanganku.

Mereka mengangguk-angguk.

Bahwa segala sesuatu selalu terjadi untuk suatu alasan.

Bahwa kehidupan selalu berjalan sesuai skenario agung yang telah ditetapkan Allah SWT.

Bahwa tidak akan ada dedikasi (sekecil apapun) yang tersia-sia.

Bahwa rizki itu kalau sudah ditakdirkan milik kita, tidak akan kemana-mana. Jadi tidak perlu khawatir!

Bahwa (menurut Anggi) ini hadiah dari Allah swt untukku, (iya ini reward, kata ibuku)..tapi yang jelas juga suatu lecutan yang membuatku malu. Sekian banyak kebaikan yang telah Allah swt limpahkan untukku, yang tidak mungkin tidak kusyukuri, tapi apa ya tindakan signifikan yang sudah kulakukan sebagai perwujudan rasa syukur itu?

Alhamdulillah. Bismillah.

*Bersyukur=berterima kasih pada Allah+berkarya untuk mengoptimalkan kesyukuran itu.


Blog EntryOct 3, '08 8:14 PM
for everyone
Click to view my Personality Profile page

Blog EntrySep 30, '08 12:41 AM
for everyone
Ini sisi kedua, dan ini yang paling keren. We got cool Deans here in FK Unpad!Dan juga semua orang yang keren. 
Haha, maksudku, perubahan itu keren, dan niscaya. Dan aku senang juga berkuliah di sini, sebab di kampus Biru ini, perubahan diterima dengan tangan terbuka dan semua menyambut dengan lapang hati dan antusiasme. Dengan satu syarat: Ada inisiatornya. Seseorang yang punya ide, dan sudah mematangkan ide itu dengan konsep yang lengkap dan rencana pelaksanaan yang teruji. Artinya, segala perubahan yang ada, sebelum direalisasikan, ya harus melalui uji materi dan teknis dulu.

Pernah masuk bagian kajian kami di KASTIL segala fenomena yang ada di kampus ini, lalu seseorang berkomentar seperti membuat konklusi, “Beberapa tahun ini banyak sekali perubahan terjadi di FK Unpad, ya. Hal bagus, selama ada transparansi dalam pengambilan kebijakan dan sosialisasi menyeluruh ke semua komponen.” 

Juga pernah, di sela sesi LKMM Wilayah 2, perempuan-perempuan SMFKUP yang diutus menjadi delegasi berkumpul, dan Kaka membahas, “Kalau ITB itu kampus impian, dan UI kampus pergerakan, lalu kita kampus apa, ya?” Dan segera saja, mataku bertemu mata Cumi dan kami memekik, “KAMPUS PERUBAHAN!”

Dekanat berubah. Senat berubah. Sistem akademis berubah. Bahkan OSPEK juga berubah. Percaya tidak? Menjadi OSPEK yang mahiwal, hehehe. Kalau pada masa dr.Trias sebagai ketua OSPEK dan Ayah sebagai ketua angkatan Maba 1981 dulu OSPEK dinamai Mampus 1981 saking sadisnya (hehehe), OSPEK 2008 (dimana dr.Trias menjadi wakil Rektor yang hadir saat OSPEK Supercamp di Situ Lembang dan adikku yang terpilih jadi ketua angkatan maba 2008) dinamai Pluripotent 2008 dan menjadi OSPEK terbaik yang pernah kualami seumur hidupku, sampai saat ini.

Tim acara yang dikomandani Kaka menjadi tim solid yang bekerja sangat baik. Konsep acara yang dihasilkan sangat matang dan kerja teknis yang mereka lakukan di lapangan adalah kerja yang rapi. 2 hari dalam kampus, 2 hari di alam terbuka. Konten dipersiapkan berdasarkan pertimbangan need assessment mahasiswa baru, tidak kurang, tidak lebih. Sebagai mahasiswa kedokteran, sebagai calon dokter. Dan ada sesi pembacaan teks sumpah dokter melalui film buatan Jaka dan Navy yang berapa kalipun mendengarnya selalu membuatku menangis.

Dekanat yang terbuka, mengayomi dan tidak pernah tanggung-tanggung. Berapa jumlah uang yang mereka investasikan untuk suatu malam renungan melalui penampilan music Abah Iwan yang dahsyat memukau, di antara udara dingin yang meremukkan tulang, sound system yang kuat, lighting yang luar biasa cantik dan api unggun menyala tinggi dimana-mana? Malam yang hebat. Menangis lagi, mendengarkan lagu Mentari yang meyakinkanku bahwa sampai kapanpun dalam kondisi apapun jiwaku selalu bebas dan merdeka dan aku bisa melakukan apa saja, hari ini hari milikku dan hari esok masih menjelang! Dan memberi hormat pada Indonesia Raya, aku sesenggukan diapit dr.Januarsih Ambu kami yang cantik (dan Pembantu Dekan 3 yang berwibawa) dan Nada. Di sebelah sana Harry Mahathir juga menangis. Juga saat lagu tema Rumah Sakit Hasan Sadikin dinyanyikan. Ikhlaskan niat kami, kuatkan tekad kami. 

Dan saat malam hampir berakhir, dan Panca juga tim logistiknya sudah tidak sabar lagi untuk segera membakar kembang api, adikku menangis hebat memeluk Dani, Ketua Angkatan 2007, mentornya ketika di SMA 3, dan menjadi mentornya kembali kini di FK Unpad, saat ia dinyatakan terpilih sebagai ketua angkatan 2008. (Adikku nyengir ringan Ahad besoknya di sela-sela Student Day Unpad, pekerjaan yang berat ya, Teh.)

Ada drama dipersiapkan oleh tim fasil Intan dan tim acara Kaka. Drama yang aneh, tapi cukup menghibur dan mengharukan—melihat Intan menangis begitu, mana mungkin ga membuat terharu? ^^ Tapi Indra sempat mengomel karena kami, fasil, lupa pada kesepakatan awal, kalau saat Indra Tanya, “FASIL!! Sayang ga sama adik-adiknya??”
Kami malah jawab, “SAYANG!” (seriusan, itu aku juga benar-benar lupa kalau perjanjian awalnya bukan gitu.)
Di kesempatan kedua setelah Indra sang Ketua Acara mendelik, “Saya Tanya lagi!! Fasil, sayang ga sama adik-adiknya?!”
Baru kami ingat sambil nahan senyum, “Ya iya,lah!”
Dan 2008 melongo saja, lho, jadi evaluasi jadi-jadian tadi dimana Teh Kaka dan Teh Intan sampai seperti saling menyalahkan dan Fasil dikambinghitamkan itu Cuma drama??
Tapi ternyata sangat berkesan untuk dr.Jan. Sebab ia bilang sambil menahan tangis, “…Ketika kakak sayang adik, dan adik sayang kakak,..itulah FK banget! Saya bangga sekali sama kalian.” Dan ia benar-benar menangis.

Tangisku terakhir di hari itu adalah tangis kagum. Terharu juga. 2008 memberikan persembahan music angkatan untuk panitia dan dekanat yang hadir. Lagu Sempurna yang dinyanyikan Wowo dan satu angkatan 2008 dengan lirik yang digubah, untuk panitia! Liukan suara melengking adikku mengomandoi yel-yel FK—yang ditemukan angkatan 2008 tapi kini tampaknya siap dijadikan yel-yel sekampus—dan berteriaklah semuanya. Hari yang luar biasa. 

Maka, atas dasar inilah, bagaimanapun kondisi saat ini, aku selalu yakin dengan kepercayaan penuh, bahwa dalam beberapa tahun, kampusku yang biru, yang berbudi tinggi, yang terbuka dan dinamis dengan perubahan, insyaallah akan telah menjadi leading campus yang semakin melejit dan berkembang, yang berkualitas dari semua aspeknya: sistemnya, manusianya, sarana prasarananya, kontribusinya, segalanya. Amin.

(Dan Nad, ayo kita jadi bagian dari perubahan itu.) 



Blog EntrySep 30, '08 12:40 AM
for everyone
Nada bilang padaku di suatu penghujung hari, saat berbuka puasa setelah mengisi sesi mentoring akademis 2008 di Kafe Bale 2. “Tugas kita berat ya, Nada khawatir ga bisa melaksanakannya,” kemudian temanku ini melanjutkan, “Nada khawatir sama teman-teman FK Unpad. Sebab ini masalah mengubah kultur.”
Kenapa, kata Tiara. Untuk terbuai di zona nyaman, untuk melulu mementingkan masalah akademis padahal semua tahu IPK tinggi belum menjamin apa-apa sebagai seorang dokter, untuk tidak berusaha menemukan dirinya di masa kuliah, mengasah dan memutuskan dirinya akan berkembang dimana dan sebagai apa. Untuk tidak bisa sampai pada tahap aktualisasi diri. Untuk unconsciousness.

Nada sungguh-sungguh dengan maksud ucapannya, seperti bagaimana temanku ini selalu. Tiara juga menangkap maksud Nada dan menjadi tercenung berpikir dan setuju. Aku juga, setuju, seperti biasanya pikiranku akan terhubung dengan sinyal yang jelas dengan pikiran Nada. 

Hari ini aku memikirkannya kembali.
Aku buka milis ISMKI untuk melihat apa saja hal baru yang terjadi di dunia mahasiswa kedokteran Indonesia dan menemukan satu postingan invitasi untuk menulis di Jurnal Ilmiah Nasional Mahasiswa Kedokteran Indonesia. Dan aku terpekur untuk beberapa saat. FK Unpad ikut menulis, tidak? Siapa yang akan menulis? 

Ini gila, kalau kukatakan dengan ekstrem. Aku baru sadar seberapa jauh aku sudah tertinggal. Dan dua tahun ini, betapa aku harus berlari mengejar ketertinggalan. Dan ironis, karena hampir saja aku tertipu keseharian dan menganggap aku ini sudah ok, sudah cukup baik, sudah cukup memenuhi kualifikasi. Tapi lalu aku jadi sedih juga. Aku ingat Januari lalu saat mengunjungi Univ. Brawijaya dan Unair dan melihat bagaimana iklim penelitian di UB berkembang pesat dan bagaimana system kepenulisan dan media di Unair sudah tertata dengan sedemikian rapi. Dan ingat juga November depan LPP bekerja sama dengan Media Aesculapius FKUI akan mengadakan workshop penulisan ilmiah, setelah Agustus lalu juga sudah mengadakan training jurnalistik berskala nasional. 

Bagaimana dengan kampusku? Jelas kenapa aku merasa tidak ada apa-apanya. Dan ya, dua tahun ini aku akan berlari mengejar ketertinggalan. Manusia besar ga akan berlama-lama menyesal, karena hidup itu—seperti kata Acid—ga butuh penyesalan tapi penyelesaian. Dua tahun ini, fokuslah pada bagaimana mengembangkan diri, memanfaatkan apa yang sudah ada di FKUP dan dengan apa yang bisa kuusahakan sendiri. (atau berdua dengan Nada, atau bertiga dengan Cumi, atau berempat dengan Ghea, atau berlima dengan Kaka, atau…sekampus dengan teman-temanku semua!*Lihat tulisan bagian 2) Dan berusahalah untuk menciptakan kondisi yang lebih baik untuk generasi setelahku. Misalnya! 

Misalnya, minimal Ketua KASTIL setelahku tidak akan kebingungan harus memulai darimana karena sudah ada SOP yang jelas untuk semua gerakan dan program.
Misalnya, minimal mahasiswa FK Unpad setelahku akan bisa mengembangkan dirinya dan melejit dalam penelitian karena sudah ada SRC yang siap mendukung dan menempanya.
Dan misalnya, minimal mahasiswa FK Unpad setelahku juga akan terlatih baik dalam menulis artikel-artikel ilmiah karena Medicinus sudah siap mem-provide segala skill dan melatihnya menulis.

Iya, ini impian kami: SEMUA MAHASISWA FK UNPAD TANPA KECUALI BISA MENGAKTUALISASIKAN DIRINYA SETELAH MELALUI MASA KULIAH DI FK UNPAD.

Nada, ini tugas berat? Hm, ya, tapi kalau bersama-sama, apa yang berat? Kata Harry Mahathir, it’s impossible to define impossible.
Ini proyek besar? Iya, benar. Mengubah kultur itu tidak mudah, satu bukan jumlah yang bisa mengubah keadaan, tapi tangan kita yang kecil ini selalu bisa mengusahakan sesuatu kan? 



Blog EntrySep 20, '08 9:23 PM
for everyone
My personality type: the determined realist. Take the free iPersonic personality test!Determined Realists like to bear responsibility and welcome challenges. They are stable, reliable persons. External contacts are very important to them; they mix well and are very active. They are excellent organisers and are very happy when things are done correctly and punctually; they can quickly react impatiently if others are not as conscientious, orderly and dutiful as they are. They prefer structured work which produces visible results quickly to abstract, long-drawn-out processes. Determined Realists have no problem with routine as long as it serves efficiency. However, they very much dislike unexpected and unpredictable occurrences which mess up their careful plans. Once they have committed themselves to a cause they do this with dedication and are willing to make considerable sacrifices for it.Determined Realist

Determined Realists do not avoid conflicts and criticism but face up to them and look for solutions. As they have a keen eye for the errors and shortcomings of others and are often quick at expressing criticism, they sometimes rub people up the wrong way especially when they lose their temper and jump to conclusions. Due to their marked sense of justice they are quickly willing to correct themselves and never take offence if someone speaks to them frankly. You do not have to seek hidden motives with them; you always know where you are. Determined Realists are often found in executive positions as they combine commitment, competence and the ability to assert themselves. In their spare time, they often also accept responsibility in clubs and other institutions.

Traditions rate highly with Determined Realists. They attend every family event and never forget a birthday or wedding anniversary. Family and friends are very important to them. With their open, communicative manner, they find it easy to get to know people and have a large circle of friends and acquaintances. They are never superficial, but reliable and loyal friends who are always there when they are needed. Determined Realists take their relationships very seriously - they dream of finding a partner for life. In a love relationship, they seek above all stability and loyalty and here, too, they are willing to invest a lot in a harmonious togetherness. Determined Realists master crises or difficult phases with composure; they would never think of breaking a promise given. As a partner, one can always rely on their support.


Adjectives which describe your type

extroverted, practical, logical, planning, direct, structured, conscientious, responsible-minded, self-confident, critical, honest, orderly, reliable, controlled, objective, able to concentrate, resolved, purposeful, communicative, with a sense of duty, tradition-conscious, stable, able to deal with conflicts, solution-oriented, relationship-oriented, efficient, impatient, warm-hearted, competition-oriented

These subjects could interest you

clubs, associations, going out, sport, travel, music, trekking, camping, hiking, cooking, handicrafts, nature, strategy games, politics

Blog EntrySep 17, '08 12:41 PM
for everyone

Aku berangkat dari karakteristik diri yang selalu menetapkan standar mengangkasa.

Hidup itu hanya sekali, maka terjunlah sampai ke dasar, tersenyumlah yang lebar, lompat setinggi-tingginya, bahkan lihat kemungkinan untuk terbang, dan kemudian pastikan telah menyentuh awan yang paling signifikan di antara kumpulannya.

Live life to its fullest, seize the day! Maka kukerahkan segenap jiwa-raga, pikiran-perasaan, untuk apa  yang terjadi saat ini, apa yang sedang menghadapiku.

Masuklah aku ke dalam masa kuliah, yang sejak pertama kali kuinjakkan kaki di tanah menuruni bis Damri pun telah terngiang-ngiangkan secara natural barisan kalimat pengingat: Masa kuliah hanya akan kualami sekali seumur hidupku! Empat tahun masa preklinik akan menjadi masa yang cepat. Tiba-tiba saja sudah berakhir. Dan aku tidak mau menjadi bagian orang yang kemudian menyesali hal yang dilakukannya, apalagi hal yang tidak dilakukannya.

Dan konsekuensi logisnya! Karena hanya sekali, maka gapai pengalaman sedalam-dalamnya. Maka torehkan jejak seteliti-telitinya, maka cetak sejarah sebaik-baiknya. Dan sisi perfeksionis akan menghendaki segala sesuatu berjalan sempurna, sesuai desain sistem berpikirku apa adanya.

Tapi hidup tidak begitu, kan, ternyata. Tidak semua hal akan terjadi, terwujud persis seperti apa yang aku inginkan. Ketidaksempurnaan-ketidaksempurnaan itu muncul, ke depan mataku setelah melewati dua tahun awal, setengah perjalanan preklinik, dan ya, kemudian cukup mengusikku.

Semua memang terjadi, tapi KENAPA, berontakku dalam benak, kenapa harus pada generasiku?

Kenapa angkatanku belum menjadi angkatan solid yang responsif dan mandiri, dan bisa mempersiapkan semua anggotanya menghadapi tantangan akademis yang bahkan hanya akan teralami 4 tahun ini?

Kenapa Senat tempat kesukaanku ternyata belum mampu menjadi sebuah organisasi yang cukup menyenangkan untuk didiami sekian banyak anak-anak berbakat di angkatanku?

Kenapa padahal mimpiku sejak kecil adalah terlibat dalam pergerakan mahasiswa namun itu tak kujumpai di kampus pilihanku dan bahkan sempat memakan waktu cukup lama untuk menemukan kawan berbagi se-suhu se-atmosfer se-jiwavisitujuan?

Padahal aku siap untuk meraup pengalaman sedalam-dalamnya!

Untuk sekian jam bumi terasa suram, tapi bahkan di alam bawah sadar selalu ada pesan peringatan bahwa saat tersuram selalu merupakan saat mentari siap terbit tinggi lagi.

Dan benar saja, saat aku keluar dari pusat mengeluh transienku, matahari masih selalu dan akan bersinar menghangatkan. Dan segera saja, sejuta kebenaran kembali membuncah-buncah dalam hatiku: Aku ingat!

Banyak hal yang tidak sempurna.

Tapi menjadi anggota kelompok tutorial 29 DMS adalah suatu hal yang superb. Tawa tidak pernah berhenti, selorohan aneh lama-lama menjadi santapan rutin, tapi pikiranku selalu menyala penuh selepas sesi tutorial berakhir. Kelompok belajar yang menyenangkan! Selalu ada debat-debat, selalu ada teori-teori dan hipotesis-hipotesis, selalu ada silih berganti anggukan dan gelengan. Karena selalu ada mereka: Dika, Marvin, Ratih, Kautsar, Cahyo, Uma, Vania, Anggi, Riza...

Tapi menjadi mahasiswa tahun ke 3 FK Unpad tahun ini, tiba-tiba saja menempatkan kami menjadi busy persons nomor 1 di Jatinangor. All day-kuliah session+menjadi mentor akademis+mentor agama+amanah organisasi+amanah angkatan+Learning Issues!+rutinitas-rutinitas pribadi, tapi terpesonanya aku, tidak pernah kujumpai teman-temanku mengeluhkan padatnya jadwal mereka, berkurangnya tidur dan masa santai mereka, kadar stres yang meningkat tiba-tiba karena harus jadi orang yang up to date juga akan apa yang sedang dipelajari adik-adik tingkat 1. Dan memanglah mana mungkin tidak menjalaninya dengan senang hati, jika kami memang melakukannya untuk adik-adik luar biasa berbakat, berhati dan bersikap baik, yang selalu tersenyum hangat dan matanya berbinar antusias saat menghadiri forum-forum mentoring akademis atau mentoring agama?

Banyak hal tidak sempurna, memang, tapi kehidupan tetap terasa sebagai anugerah yang luar biasa, ya. =)

Dan lagipula, bukankah ketidaksempurnaan itu penempaan? Kesempatan bagi kita untuk menyempurnakan? Dan bukankah masa mahasiswa itu hakikat dasarnya adalah masa persiapan? Laboratori kehidupan?

Tiba-tiba perasaanku menghangat.


Blog EntryJul 30, '08 12:55 PM
for everyone
Sejak setahun lalu Dr.med.Tri Hanggono Ahmad, dr. naik menjadi Pembantu Dekan III di Fakultas Kedokteran Unpad, hidup kami tidak pernah sama lagi.

Untuk pertama kalinya kami serasa benar-benar terbangun. Dari kelenaan menjalankan aktivitas kemahasiswaan sehari-hari, tanpa betul-betul memahami esensinya. Dari keasyikan berkoordinasi, membentuk struktur, menyusun dan melaksanakan program, tanpa sungguh-sungguh memahami substansi. Padahal esensi itulah yang harus diupayakan. Padahal substansi itulah yang harus didahulukan.

Meski kini kami bersyukur luar biasa karena dipertemukan dengan seseorang yang sungguh menginspirasi sekaligus mendobrak, mengajarkan sekaligus menghentak, pada prosesnya, sebelumnya, keadaan tidak senyaman yang bisa dibayangkan...
"Apa esensi kemahasiswaan? Untuk apa kalian berkegiatan?"
"Kata siapa struktur harus seperti ini? Darimana dasarnya?"
"Mana referensinya?"
Dan pada akhirnya,
"Kalian bingung? Bagus, itu tandanya kalian berpikir."
Banyak renovasi terjadi di Kampus Perubahan. Beberapa orang dengan antusias beradaptasi dan mengembangkan diri, tapi toh, sebagaimana fitrah kehidupan, tidak sedikit juga yang bergeming dan menampik dengan dalih, "Untuk apa repot-repot, keadaan selama ini sudah baik. Kenapa menciptakan masalah baru. Kenapa tidak berurun rembuk."
Itu baru dari internal. Eksternal bukannya tidak mendiamkan.
"FK ahistoris!"
"Tidak kompak!"
"Salah kaprah!"
"Kalian paham tidak makna Senat?"
Yang awalnya merasa gentar, hingga kini kami merasa telah sangat siap. Pengalaman itu mengajarkan! Kesalahan itu mendewasakan! Hingga kini kami malah menyambut dengan antusias tamu yang ingin datang berkunjung. Ayo datang! Supaya kita bisa berdiskusi. Dan meski tidak sedikit yang gugur, yang tersisa toh bertambah menjadi jauh lebih solid. Everything always happens for a reason.

Jadi, kami merubah nama menjadi Senat.

Dalam kegiatan sehari-hari, kami memberikan fokus lebih pada pembekalan kompetensi mahasiswa kedokteran kampus kami. Tidak hanya bagi para aktivis, namun semuanya.

Kami tidak membentuk struktur berdasar warisan seperti apa adanya, kami membentuk struktur berdasarkan fungsi yang kami perlukan dan mengaturnya sesuai filosofi yang ingin kami terapkan.

Kami berpendapat bahwa kesatuan suara dan soliditas entitas itu adalah suatu kekuatan yang besar dan harus diutamakan. Maka kami berupaya menghimpun semua unit kegiatan mahasiswa (dengan segala definisinya) berada bersama kami, untuk kami naungi, kami dukung, kami kembangkan.

(Untuk yang mau datang untuk berdiskusi, silakan, silakan. Kami tunggu di Jalan Bandung-Sumedang KM. 21, Jatinangor. ^o^)

(Untuk dr.Tri, ayah kami, semoga suatu hari ada kesempatan membalas segala kebaikanmu.)

(Proyek terdekat: Kurikulum Kemahasiswaan. Teh Avi, Nada, Fadli, semangat!)


Aku ajukan satu pertanyaan retoris pada diriku. Di tengah ketidaksempurnaan aku, bukankah merupakan sebuah karunia yang luar biasa ketika masih ada orang-orang yang mau berbaik hati menyayangiku dan terus, tidak pernah berhenti, bersikap baik padaku? Terima kasih Ya Allah.

Aku menemukan mereka.
My dream team!
Ghea teman yang setia, yang selalu menceriakan hidupku, menyemangati. Aku menangis saat bilang, lebih dari yang dia tahu, dia sangat berarti untukku. Terima kasih Ghea.
Nada a friend for life. Temanku memaknai kehidupan. Yang tanpa bicara sudah tahu apa yang ingin dikatakan. Yang dengannya aku merasa siap mengarungi apa saja dalam kehidupan. Aku menangis saat dia bilang aku tidak boleh menangis karena kalau begitu dia akan menangis. Terima kasih Nada.
Kaka yang menguatkan dan selalu bisa mengerti. Perempuan muda yang luar biasa tegar dan selalu bisa diandalkan. Yang selalu mengalirkan energinya ketika merangkulku kuat-kuat. Aku menangis saat sadar bahwa kalau tidak ada Kaka semua tidak akan sama. Terima kasih Kaka.
Cumi kesayanganku. Yang dengan anehnya mengatakan mengidolakan aku. Hm, padahal sejak awal masuk kuliah, dia yang selalu menginspirasiku. Dengannya hidup tidak pernah terasa sulit. Sejak pertama kali OSPEK, Cum! Kita selalu jadi saudara seperjuangan! Terima kasih Cumi.

Terima kasih Ya Allah.
I'll Never Walk Alone Again!
cause they're there.
Juga ada beberapa anak istimewa ini.
Adik mentor kesayanganku! Maryam akhwat tulen yang berbakat. Sofa yang kalem tapi brilian. Chacha yang bersemangat dan proaktif.
Alma yang kritis dan berbakat besar menulis. Rena lucu yang lucu! Anak pintar yang selalu bekerja dengan baik.
Ada scene sewaktu LKMM Wilayah II kemarin yang sangat lucu.
Aku: Rena lucu ya, Cum. Aku suka Rena!
Cumi: Iya aku juga! Tapi aku juga suka Maryam!
Nada: Nada juga! Tapi Sofa juga!
Dan tahu tidak, saat itu tanpa kami sadari, Sofa dan Rena sedang berdiri di pintu. Hehehe. (Sudah aku pastikan mereka tidak dengar. =) )

Dani yang komentarnya sangat baik di sesi Pergerakan Mahasiswa. Yang akan terus kutawari bergabung di Kastil! Hehehe. Yogi 2 sang kreator Jejaring Miring yang fenomenal. Yang dengan baik hati menawari berbagi sepotong coklat kecil. (padahal sudah sangat kecil sekali, hix), dan Yasser lucu yang malah jadi korban. Mereka semua adik-adikku.

Tentu tidak akan melupakan 3 orang ini:
Panca!
kata T'Avi, kesukaan Bang Reyhan. Danus sejati yang enak diajak bekerja sama.
Andri!
Sahabatku, saudaraku. Pak Lurah yang jenius musik. Teman berbahasa Inggris yang seru. Mengatakan dengan tidak jelas, You're not cool, you know! Hehehe. Aku tidak akan kemana-mana.
Yoji!
Yang Nada penasaran cara berpikirnya. (hehehe, ember ya aku.) Yang mau bergabung di Kastil! Welcome!

Putri yang selalu jadi teman seiiringan sejak kapanpun.
T'Avi kakak perempuan yang hilang. (dan dr.Koto yang aneh, hehehe)

Sehangat matahari Niigata di bulan Mei, hatiku saat ini.
Kampus Perubahan sudah menanti kami.
Tapi yang membuatku lega, aku tahu aku tidak akan merasa sendirian lagi.
Cause they're here with me.

Berhenti bersyukur itu memang tidak mungkin. =)



Pages:12